Pengalaman Cinta


Minggu itu aku menghadiri reuni SMA di rumah salah seorang kawan. Acara itu diselenggarakan dengan sederhana, atau bahkan terlampau sederhana, sehingga tidak ada susunan kegiatan apa saja yang akan kami lakukan dalam momen itu. Meski begitu, sebagaimana yang kami harapkan, acara itu tetap berjalan dengan menggembirakan.

Yang kami lakukan saat itu, seperti di reuni-reuni sebelumnya, hanyalah saling mengobrol, bertanya tentang aktivitas terbaru masing-masing, juga sedikit mengenang masa sekolah. Semuanya selalu diselingi dengan lelucon-lelucon ringan, yang sanggup membuat kami tertawa.

"Tertawa membuat kita awet muda," kata seorang teman. Aku menyetujuinya.

Di antara tema percakapan yang kami obrolkan saat itu, tema tentang 'siapa-jodoh-kami-kelak' agaknya mendapat porsi lebih banyak dibanding tema lainnya. Tidak mengherankan, karena kebanyakan yang datang adalah para jomblo—atau mereka yang mendaku jomblo.

"Aku akan bertanya pada kalian soal kehidupan asmara kalian?" tanya seorang teman perempuanku yang berpipi bakpau, padaku dan teman-teman lainnya.

"Setidaknya dimulai dari kamu," kata seorang teman lelakiku yang bertubuh jangkung.

Teman perempuanku itu tampak menimbang sejenak.

"Baiklah," katanya kemudian.

Ia memulai ceritanya, mengatakan bahwa ia pernah berpacaran dengan seorang cowok selama empat tahun. Hubungan mereka bisa dibilang tidak berjalan mulus, lantaran seringnya mengalami putus-nyambung. Namun setelah sekian kali putus-nyambung, akhirnya hubungan mereka benar-benar kandas, layaknya sebuah kapal yang mesinnya telah mati setelah beberapa kali mengalami kerusakan. Ia menceritakan semua itu dengan tegar, yang diselingi dengan humor. Seolah itu bukanlah sesuatu yang terlalu penting.

"Selanjutnya," katanya. Ia menoleh ke seorang teman lelaki yang berkacamata dan berambut agak gondrong dan memiliki wajah bijaksana.

"Baiklah," kata temanku yang berkacamata itu. Lalu mulai berkisah.

Temanku itu mengaku kalau ia sedang disukai oleh seorang gadis SMP. Gadis itu bisa dibilang cinta mati padanya, bahkan sangat ingin menikah dengannya. Ia menolak dan nampaknya tidak menaruh hati pada gadis itu. Ia tak menyebutkan alasannya. Barangkali ia menganggap cinta gadis itu hanya cinta sesaat semata. Sekadar cinta monyet.

"Menurutmu, bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang itu adalah sosok yang akan jadi jodoh kita?" tanya teman perempuanku tadi.

Teman lelakiku itu tampak berpikir sejenak, berusaha menemukan jawaban terbaik.

"Menurutku, orang itu adalah orang yang mampu menggetarkan hatimu dengan hebat. Dan entah kenapa, kau akan merasa cocok dengannya, dan merasa yakin bahwa ia adalah sosok yang ditakdirkan Tuhan untukmu. Kau juga akan merasa sulit untuk berpisah darinya, seolah ia sebagian dari dirimu," jelasnya.

"Lalu bagaimana bila orang yang kita yakini itu merasa tidak cocok dengan kita?"

"Aku punya pengalaman tentang itu," kata teman lelakiku yang berkacamata itu. "Aku pernah mencintai seorang gadis dengan perasaan semacam itu. Ia sepupuku. Sebenarnya, ia sudah merasa cocok denganku dan kami sempat membahas soal rencana pernikahan."

Temanku itu mengambil jeda sejenak. Mungkin hal itu terlalu pahit diceritakan.

"Namun satu kali, ia berkata padaku bahwa mantannya menghubunginya dan mengancam akan bunuh diri bila ia menjalin hubungan dengan lelaki lain," lanjutnya. "Saat mengetahuinya, aku memutuskan untuk mundur. Aku tak menginginkan ada pertumpahan darah."

Aku sedikit meragukan alasannya untuk mundur, hanya karena itu. Aku menduga ia kecewa dengan gadis itu, lantaran si gadis masih berhubungan dengan mantannya. Mungkin ia beranggapan, jika si gadis mencintainya, harusnya gadis itu tidak perlu bertanya tentang apa pendapat temanku itu atas ancaman sang mantan kekasih. Bukankah dengan mempertanyakan hal demikian justru menunjukkan fakta bahwa si gadis masih memiliki rasa cinta pada mantan kekasihnya itu?

Barangkali gadis itu mulai meragukan hubungannya dengan temanku itu. Atau, mungkin saja temanku itu dijadikan pelarian semata oleh gadis itu, seseorang yang dipakai untuk transit sejenak, sembari menunggu apa yang diharapkannya dari sang mantan—mungkin penyesalan dari sang mantan lantaran telah memutuskannya—muncul, untuk kemudian ia mendekapnya kembali.

Jika benar begitu, sikap gadis itu tak ubahnya seorang pelatih sepak bola, yang memainkan pemain cadangan hanya untuk menunggu pemain andalannya pulih dari cedera. Sikap yang menurutku sungguh menyebalkan.

Namun, bagaimanapun, ini hanya dugaanku secara sepihak saja. Kebenarannya masih perlu diragukan.

"Cinta memang mesti diperjuangkan oleh kedua belah pihak," kata temanku yang bertampang bijaksana itu. "Sebagaimana kau bakal kesulitan bila harus berjalan dengan satu kaki.."

Kami setuju mengenai itu.

Kemudian, satu per satu temanku mendapat giliran untuk bercerita soal hubungan asmara mereka. Ada yang tanpa malu bercerita, ada pula yang menyembunyikannya melalui semacam candaan demi menunjukkan seolah-olah hubungan asmara mereka baik-baik saja. Hingga sampailah pada giliranku.

Hubungan asmaraku sebenarnya tak jauh berbeda dari cerita teman-temanku sebelumnya. Layaknya sebuah kerangka cerita yang dikisahkan dengan beragam versi dan tokoh-tokoh yang berbeda. Aku pernah dua kali berpacaran, namun semuanya berakhir lantaran mantan-mantanku itu berselingkuh.

Meski pada akhirnya aku bisa melupakan keduanya, namun pengalaman-pengalaman itu meninggalkan jejak pada diriku. Mengubah karakterku.

Aku jadi terlalu berhati-hati dalam memilih pasangan. Selalu ragu untuk menjalin sebuah hubungan dengan seorang gadis. Bahkan, bisa dibilang, aku jadi sedikit malas untuk memikirkan hubungan semacam itu. Setidaknya untuk saat ini.

"Aku...," kataku, "baik-baik saja."

Jawaban itu memang tidak memuaskan siapa pun. Namun aku tak peduli. Beruntung mereka tidak mempersoalkannya.

"Cukup membahas soal ini," kata seorang temanku dengan nada berkelakar. "Sungguh, topik semacam ini membuatku ingin menikahi seseorang."

Kami semua tertawa mendengar pernyataan itu.

Komentar

Postingan Populer